Wednesday, February 23, 2011

Sad Love Story 1 - A SasuSaku Fanfic


Sad Love Story
Disclaimer by
Naruto © Masashi Kishimoto
Sad Love Story © Kuroneko Hime-un
Pairs : SasuSaku
Rated : T
Genre : Hurt/Comfort
AU, OOC, and lil miss typo
Twoshot

Enjoy Reading~

Seorang gadis berambut merah muda sedang terduduk bersenderan pada sebuah pohon besar di halaman rerumputan hijau. Dia sedang membaca sebuah buku tebal yang berada dipangkuannya. Buku itu tebalnya bagai dua buah buku koding dan bersampul hijau lumut bertuliskan ‘Anatomi Jilid II’.

Saking seriusnya dia membaca buku itu tanpa sepengetahuannya sudah berdiri seorang pria berbadan tinggi gagah tengah menatapnya datar. Pria tersebut memasukan kedua tangan kekarnya ke dalam saku jins hitamnya. Baju putih polosnya sedikit kemasukan angin dan menyeruak aroma tubuhnya yang harum seperti cokelat.

Menyadari ada orang yang sedikit menutupi cahaya dari aktivitas membacanya dan samara-samar tercium wangi cokelat kesukaannya, gadis itu menengadah dan mendapati pria berambut raven tengah menatapnya datar seperti biasa.

Gadis itu tersenyum lembut menatap kekasihnya dan menyuruhnya untuk duduk di sebelah dirinya. Cowok itu bergerak duduk menuju gadis beraambut kembang gula berada. Merapatkan diri agar gadis itu nyaman dan setengah bersender pada lengannya yang kokoh.

Sakura nama si gadis berambut kembang gula itu dam-diam tersenyum senang. Dia menyesap aroma tubuh kekasihnya yang menguar akibat hembusan semilir angin. Padahal dia tahu cowoknya itu pasti agak jengah dengan aroma tubuhnya sendiri karena dia tidak suka dengan cokelat dan yang berbau dengan segala kata manis dalam makanan. Tapi, demi kekasihnya yang rewel itu dia terpaksa memakainya.

Detik-detik berlalu tanpa ada seorangpun yang berbicara. Lagipula pria tersebut tahu kalau dia tidak mungkin kan yang berbicara duluan atau malah bercuap-cuap? Bukan image seorang Uchiha saja. Sedangkan gadisnya, Sakura, sedang terfokus membaca buku. Lebih baik dibiarkan saja pikirnya.

Tiba-tiba tak jauh dari tempatnya kira-kira lima sepuluh meter, ada dua orang gadis sedang berbincang-bincang ke arah mereka. Pria tersebut menatap gadis berambut indigo panjang bermata lavender itu dengan sendu. Lengannya agak sedikit bergerak sehingga Sakura sadar ada yang bergerak.

Sakura menatap kekasihnya itu dengan heran. “Ada apa, Sasuke?”

Sasuke hanya menjawab dengan menggeleng kepalanya kecil. Sakura jadi dibuat bingung olehnya.

“Hei, Sakura!” panggil temannya gadis bercepol dua dari jauh.

Sakura langsung menyahutnya dengan lambaian dan meminta agar mereka berdua temannya kemari. Gadis bercepol dua dan berambut indigo itu mengangguk dan mempercepat jalannya.

Sasuke yang tadinya menatap lurus kea rah dua gadis itu kini menunduk. Sakura sudah tahu kebiasaan Sasuke ini yang kerap kali menunduk jika bertemu dengan teman-teman Sakura. Sakura bangkit menuju temannya meninggalkan Sasuke dan berbincang-bincang sebentar. Setelah urusannya sudah selesai gadis berambut indigo itu menyadari kekasih Sakura yang tertunduk di pohon.

Gadis berambut indigo itu sedikit menyapa Sasuke. “Konichiwa, Sasuke-san.” Katanya dengan senyuman bak malaikat.

Sasuke mengangguk. “Hn.” Jawabnya masih setengah menunduk.

Sakura yang tadinya mengobrol dengan Tenten sedikit melirik kea rah Sasuke. Ada sedikit kejanggalan pada diri Sasuke. Berapacaran selama dua tahun itu dia sudah tahu betul sifat Sasuke dan ini bukan yang pertama kalinya.

Sebenarnya ada apa denganmu, Sasuke? Risau Sakura dalam hati.

.

Musim semi telah berganti dengan musim panas di Konoha. Musim panas identik dengan pria berkepala duren berambut kuning yang selalu bersemangat itu. Teriakannya selalu terdengar dari depan gerbang kampus Konoha dan itu membuat sebagian mahasiswa di sana agak risih dengan tingkahnya.

Walau sudah selama tujuh tahun Sakura bersama dengan si biang onar Naruto itu, rasa-rasanya Sakura selalu sebal dan ingin menonjoknya sampai mental. Seperti yang dilakukan Sakura sekarang ini.

Warna ungu menghiasi pipi berwarna kecokleatan bergaris rubah milik Naruto itu. Dia telah melakukan kesalahan dengan menyingkap rok Sakura. Padahal ini bukan lagi zaman SD mereka. Mereka sudah menjadi mahasiswa dan seharusnya tidak lagi melakukan perbuatan konyol itu.

Dengan dibantu Hinata, sang kekasih si biang onar itu, Naruto dikompres menggunakan sapu tangan Hinata. Sakura yang masih agak emosi menatap Naruto sebal dan Sasuke yang daritadi di sebelahnya tampak tidak meredakan amarah Sakura. Justru dia melihat pipi Naruto yang bengkak itu. Bukan, agak lebih ke samping lagi. Dia melihat tangan putih mulus yang sedang mengkompres pipi Naruto.

Tangan milik Hinata itu menyita perhatian Sasuke. Dia menatap wajah sayang dan cemas Hinata kepada Naruto. Sasuke agak mengepalkan tangannya menahan gejolak sesuatu dalam dirinya. Sakura yang tidak sadar akan reaksi Sasuke tiba-tiba menarik kasar tangan Sasuke. Tak sengaja Sasuke menepisnya.

Sakura dan Naruto yang tadi berdebat langsung terfokus pada bunyi yang sedikit mirip tamparan itu. Sasuke agak kaget dengan perbuatnnya itu, tentu saja dilihat dari luar tidak tampak. Namanya juga imaga seorang Uchiha.

“Aku tidak sengaja.” Katanya datar setelah terjadi kejedaan.

Sakura memegang tangan yang ditepis Sasuke dan mengusapnya. Perih dan sakit rasanya. Tidak ada kata ‘maaf’ dari mulut Uchiha bungsu itu. Sakura bisa maklumi tapi kenapa tangannya ditepis begitu?

“Tidak apa-apa Sasuke,” ujarnya memaksa tersenyum. Dia tidak menggunakan embel-embel –kun dan Sasuke tidak sadar itu.

Naruto menyudahi Hinata untuk mengompresnya, dengan halus menepis tangan Hinata.

“Kau kenapa sih, Teme?” Tanya Naruto penasaran. Tatapan matanya lurus ke mata onyx Sasuke.

“Sudah kubilang tidak sengaja.” Jawabnya dingin. “Itu kulakukan refleks.” Dalihnya.

“Benar begitu?” selidik Naruto. Ada rasa penasaran di dalam nadanya.

Dua orang gadis yang daritadi diam menyaksikan kekasihnya saling berdebat kini mulai angkat bicara.

“Sudahlah Naruto-kun…,” ujarn Hinata halus memecah keheningan menusuk itu. Dia memeluk lengan Naruto sedikit mesra hingga membuat degup jantung Sasuke agak memacu lebih cepat.. “Sasuke-san bilang dia tidak sengaja kan?”

“Ya, Naruto. Lagipula aku tidak apa-apa kok.” Terang Sakura dengan senyum yang agak dipaksakan dan Naruto tahu betul itu.

“Kenapa maslahnya jadi rumit begini?” ketus Sasuke. Sakura tampak tercengang dengan perkataan Sasuke yang agak sinis. Bukankah kau yang mulai duluan Sasuke? Gumam Sakura.

Naruto yang sudah sebal dengan perilaku Sasuke dan tak terkendali emosinya langsung mengahajar wajah Sasuke. Sasuke yang tidak siaga tak bisa menghindar dari pukulan telak Naruto. Akibatnya pipinya sama birunya dengan Naruto.

Sakura dan Hinata kaget dan dengan cepat memisahkan mereka. Walau keduanya agak takut untuk menghentikan aksi brutal kedua cowok itu. Hinata berusaha memeluk Naruto untuk menghentikan aksi pukulnya sehingga membuat Sasuke tambah geram karena dipukul plus melihat Hinata memeluk Naruto. Bahkan sakura yang menarik lengan Sasuke ikut terjatuh dan menangis berteriak tanpa ada yang mau mengalah satupun.

.

Sakura berbaring telungkup di kasur mungilnya yang bersprei warna kuning cerah dengan motif awan putih di ujung kasur. Wajahnya ditenggelamkan semakin dalam ke bantal empuknya. Dia sedikit takut mengingat kejadian di koridor kampus tadi. Mata Sasuke tidak biasanya berubah menjadi warana merah bukan onyx yang angkuh.

Mata merahnya itu seperti menaruh amarah yang besar siap jebol kapan saja. Sakura bergidik ngeri. Dielus-eluskannya leher jenjang putihnya yang agak sedikit meremang dan pegal.

Sakura bangkit dari posisi telungkupnya menjadi duduk di kasur. Dia lihat ke meja kecil yang disana terdapat beberapa pigura, lampu malam dan jam weaker. Diambilnya salah satu pigura berlapis bingkai kayu mahoni buatan salah satu temannya. Di foto itu ada. dirinya dengan Sasuke yang tersenyum tipis sedang berpelukan mesra. Mungkin mesra bila dilihat dengan mata telanjang tapi tidak tahu dengan yang ada di dalam hati Sasuke.

Sakura sadar akan hal itu. Ada yang aneh dnegan Sasuke. Tapi, apa itu. Mungkin sesuatu yang menyangkut dengan perasaan hati? Ya, mungkin itu. Karena selama beberapa tahun berpacaran dengan Sasuke, Sakura bisa menghitung berapa kali pria itu mengucapkan kata cinta padanya.

Dulu Sakura pernah bertanya kenapa Sasuke tidak pernah megucapkan kata cinta  dan dia hanya menjawab dengan wajah yang tertunduk karena dikala itu dia sedang merapihkan buku sekolahnya, “Memangnya harus mengucapkan kata cinta setiap kali? Menurutku dengan atau tanpa mengucapkan cinta asal mereka bisa bersama itu sudah baik kan?” dan itulah untuk pertama dan terakhir kalinya Sasuke berkata panjang lebar.

Ingatan Sakura menjadi berpendar-pendar saat dia masih sekolah dulu dan ingin menyatakan cinta pada Sasuke. Semuanya berjalan terasa baik saja dan tidak ada yang salah kecuali para fansgirl Sasuke yang iri dengan Sakura. Dulu Sasuke tidak terlalu dingin seperti ini. Dulu Sasuke masih bisa menyempatkan diri menunggui Sakura sampai sore hari di sekolah tapi, sejak masuk kuliah Sasuke selalu menolaknya dengan alasan kalau dia capek dan ingin beristirahat di rumah.

Flashback

Hari sudah menjelang sore di luar sekolah. Terlihat sinar ke-orange-an menyusup masuk melalui jendela perpustakaan yang sunyi daritadi. Hanya ada beberapa siswa yang masih berkutat di tiap-tiap meja dengan buku setumpuk. Termasuk Sakura yang sedang berpikir keras menemukan jawaban yang sedang dia baca perlahan.

Mata emeraldnya sudah berair karena terlalu banyak membaca. Ditutupnya buku itu dengan helaan nafas panjang. Badannya disenderkan pada kursi dan pandangannya mengedar pada jendela perpustakaan yang langsung terlihat jalan menuju gerbang keluar sekolah.

Diliriknya arloji berwarna putih susu yang menghiasi pergelangan tangan mungilnya. Sudah pukul 17.15 sore ternyata.

“Apa Sasuke tidak menungguku ya?” gerutunya sambil mengerucutkan bibirnya. “Kenapa dia tidak mau ikut belajar denganku saja sih?”

“Siapa yang tidak mau ikut belajar bersama denganmu?” Tanya cowok berambut ke abu-abuan berkacamata bulat yang sudah berada di belakang Sakura.

Hampir saja Sakura terlonjak kaget. “Ah, Kabuto-san,” lega Sakura. “Kau taulah siapa orang itu.” Katanya sedikit ketus.

Kabuto sedikit terkekeh dan membetulkan letak kacamatanya. “Uchiha kan tidak perlu belajar keras sepertimu Sakura. Bagaimanapun peringkat dia tetap nomor satu.”

Sakura merenggut. Dia lupa akan kejeniusan kekasihnya itu yang selalu ngetop di segala bidang. Hhh… tekanan batin baginya. Sebenarnya Sakura juga tidak perlu belajar di perpustakaan sampai sore begini Peringkat dia hanya turun satu tingkat di assessment kedua dan itu menjadi masalah baginya.

“Sudah sore Sakura. Lebih baik kau pulang sebelum malam. Mungkin saja ada orang yang sedang menunggumu di loker.” Ujar Kabuto membantu merapikan buku Sakura. Sakura hanya mengangguk dan sedikit menggumam tidak jelas.

Sakura jalan menuju loker sepatunya dengan lambat-lambat. Beberapa bulan lagi dia akan menghadapi ujian akhir sekolah dan lulus tahun ini. Dia sudah memikirkannya untuk melanjutkan di universitas mana bersama Sasuke juga teman-teman yang lainnya.

Koridor kelas yang sepi dan sedikit cahaya matahari sore membuat suasana sekolah sedikit menakutkan. Sakura mempercepat langkahnya. Jujur saja dia anak yang paranoid dan dia malah mengingat mitos-mitos hantu di sekolah.

Akhirnya dia samapai di loker sepatu miliknya. Dia melihat separuh badan yang sedang menyender membelakanginya di luar pintu masuk. Sakura ragu ingin menabak siapa gerangan yang berada di luar itu. Inginnya percaya diri dan meyakini bahwa yang di luar itu adalah kekasihnya namun tidak mungkin hal itu. Karena Sakura tahu betul kekasihnya sudah pulang sejak sekolah berakhir.

Tapi, melihat rambut yang seperti pantat ayam itu, Sakura yakin bahwa itu Sasuke. Dengan cepat dia memakai sepatunya dan berjalan ke luar.

“Sasuke?” tanyanya dengan wajah yang campur aduk anatar senang, kaget, dan juga heran.

Sasuke yang dipanggil menyahut dan menoleh ke arah kirinya. Dia lihat lemat-lemat gadis berambut merah muda itu. Ekspresinya datar namun cepat-cepat diselingi dnegan senyuman tipis yang membuat Sakura tersipu.

“Kau menungguku?” Tanya Sakura lagi, tidak percaya.

“Tentu.” Jawabnya cepat. “Ayo, pulang.” Sasuke menggandeng tangan Sakura dengan santainya.

Sakura yang masih bercampur aduk perasaanya makin menjadi pusing karena ulah Sasuke yang tiba-tiba menggandeng tangannya. Tidak biasanya Sasuke sebaik ini. Tapi, beruntunglah Sakura jika memang seperti ini sekarang.

Tanpa diketahui Sakura, dalam hati Sasuke kejadian sebelum pulang sekolah berputar kembali. Gadis indigo itu sedang memenuhi ruang pikirannya sekarang. Saking senangnya dia tidak sadar telah mengamit tangan Sakura. Hatinya berkhianat.

End of Flashback

Mengingat kejadian itu Sakura meremas rambutnya dengan kesal. Apa benar Sasuke yang waktu itu hanya sebuah kebetulan dan kehendak seseorang untuk menungguinya di sekolah. Tapi, siapa? Apakah Ino? Tidak mungkin. Walau di sekolah dulu Ino emnyukainya hatinya malah mencintai Sai. Apa Tenten? Tidak mungkin. Atau Hi… Hinata?

Dan malam itu, Sakurapun berteriak seperti orang kesetanan hingga pagi berlangsung tidak tahu melakukan apa.


No comments:

Post a Comment